Layar Kecil, Besar Dampak: Bawaslu Lumajang Siap Belajar dari “Arisan Film Pendek”
|
Lumajang - Sebagai Koordinator Divisi SDM dan Organisasi Bawaslu Lumajang, Radheteryan Firdiansyah merasa sangat antusias ketika pertama kali mendengar program Arisan Film Pendek Divisi SDM dan Organisasi Bawaslu se-Jawa Timur yang digagas oleh Nur Elya Anggraini, Anggota Bawaslu Jatim.
Menurut Ryan, Ini bukan sekadar program baru, tapi sebuah cara segar untuk memahami demokrasi, bukan dari buku tebal atau aturan yang kaku, melainkan dari layar kecil yang memancarkan cerita.
“Film membuat diskusi tentang demokrasi jadi lebih ‘basah’, tidak kaku,” kata Eli. Saya setuju. Selama ini, diskusi tentang demokrasi sering terasa berat dan cenderung membosankan, penuh jargon dan aturan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun lewat film pendek, kami diajak masuk ke dalam cerita, merasakan dilema, konflik, dan harapan yang sering kali menyertai proses demokrasi”, kata Ryan.
Ia mengatakan bahwa seluruh jajaran di Bawaslu Lumajang menyambut program ini dengan antusias.
“Melalui arisan yang dekat dengan kultur lokal, kami bisa berkumpul bukan hanya untuk menonton, tapi juga berdiskusi secara terbuka dan hangat. Tidak ada sekat formalitas, hanya suasana santai yang membuat gagasan-gagasan mengalir deras”, katanya.
Program ini tak hanya menyegarkan cara pandang terhadap demokrasi, tapi juga menguatkan komitmen kami sebagai pengawas pemilu. Menonton film bersama, membedah alur dan pesan, kemudian mengaitkannya dengan tugas pengawasan di lapangan menyadarkan bahwa demokrasi adalah proses hidup yang dinamis dan penuh warna.
“Menurut saya, pendekatan ini sangat relevan di zaman sekarang, ketika demokrasi sering dipandang sebagai sesuatu yang berat dan jauh dari masyarakat. Dengan film, kami dapat belajar dari kisah nyata maupun fiksi yang mengangkat nilai-nilai demokrasi, seperti kejujuran, keadilan, dan keberanian. Ini bukan hanya hiburan, tapi medium pendidikan yang efektif”, pungkasnya.
Gagasan Eli membuka ruang baru dalam pengawasan pemilu, yang selama ini cenderung birokratis. Arisan film pendek bukan sekadar nobar, ia adalah tempat kami berbagi pikiran, menyaring makna, dan menumbuhkan kesadaran kolektif. Ini cara kami merawat demokrasi, dari tikar arisan hingga realita di lapangan.
Penulis & Foto : Ella Luma