Lompat ke isi utama

Berita

Mengupas Sengketa Pemilu dari Bukti Lemah hingga Pelapor Anonim di Pendidikan Partisipatif Batch 10

2711

Anggota Bawaslu Lumajang, Siti Mudawiyah kembali menjadi fasilitator dalam pendidikan pengawasan partisipatif

Lumajang -Anggota Bawaslu Lumajang, Siti Mudawiyah kembali menjadi fasilitator dalam pendidikan pengawasan partisipatif yang digelar oleh Bawaslu Jatim, Kamis (27/11/2025). Layar-layar kecil yang berjumlah hampir 100 orang itu berisi peserta dari Kabupaten Mojoketo, Pasuruan dan Kediri.

Sejak pembukaan, Mudawiyah mengajak peserta membedah dinamika sengketa, terutama kasus-kasus yang muncul cepat, spontan, dan sering hanya menyisakan jejak digital. Ketika sesi diskusi dibuka, sebuah pertanyaan mencuat dari salah satu peserta.

“Bagaimana jika laporan dugaan pelanggaran hanya memiliki bukti foto atau video yang lemah, tanpa saksi, karena kejadian berlangsung begitu cepat?”, tanya Yakub.

Pertanyaan itu menjadi pintu masuk penjelasan panjang Mudawiyah mengenai mekanisme pelaporan dan ruang aman bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa Bawaslu tidak menutup pintu bagi laporan yang bukti awalnya terbatas.

“Jika pelapor punya foto atau video, tetapi kekurangan bukti dan tidak ada saksi, dan ia tidak percaya diri melaporkan, orang yang mengetahui kejadian itu tetap bisa melaporkan ke Bawaslu tanpa harus diketahui identitasnya,” ujar Mudawiyah.

Pelapor anonim bukan hal mustahil. Identitas boleh disembunyikan, namun bukti tetap diproses. Foto dan video, kata Mudawiyah, akan diperlakukan sebagai informasi awal. Bawaslu kemudian melakukan penelusuran dan investigasi untuk menguji kebenaran peristiwa tersebut.

“Namun tetap, unsur 5W + 1H dalam dugaan pelanggaran harus terpenuhi. Minimal, peristiwanya jelas.” Tegasnya.
Penegasan itu mengalir menjadi catatan penting bagi peserta: pelaporan bukan semata soal keberanian muncul di permukaan, melainkan soal memastikan peristiwa tercatat, diverifikasi, lalu ditindaklanjuti secara prosedural.

Sebagaimana lazimnya gaya pendidikan partisipatif, forum hari itu mengembalikan satu pesan pokok, pengawasan pemilu tak hanya soal apa yang tampak, tetapi tentang siapa yang berani mencatat, meskipun tanpa nama.

Penulis : Ella Luma
Foto : Miela