Perkuat Pengawasan dan Kekompakan Internal, Bawaslu Jatim Gelar Supervisi di Lumajang
|
Lumajang - Kegiatan supervisi yang dilaksanakan oleh Bawaslu Provinsi Jawa Timur kali ini merupakan supervisi perdana yang dilakukan secara serentak di sejumlah wilayah, khususnya di kawasan Tapal Kuda yang meliputi Lumajang, Jember, Bondowoso, dan Situbondo. Ke depan, pimpinan Bawaslu Jawa Timur lainnya juga dijadwalkan turut melaksanakan supervisi lanjutan di Kabupaten Lumajang sebagai bagian dari penguatan fungsi pengawasan di daerah.
Dalam pelaksanaannya, tim supervisi menurunkan 10 alat kerja pengawasan (AKP) yang didistribusikan ke seluruh divisi. Dengan durasi kegiatan yang relatif singkat, yakni selama dua hari, Anggota Bawaslu Jawa Timur, Dwi Endah Prasetyowati, menekankan pentingnya optimalisasi waktu oleh seluruh jajaran.
Ia berharap setiap divisi dapat melaksanakan tugas secara maksimal sesuai dengan fungsi masing-masing, dengan tetap mengedepankan prinsip kolektif kolegial mengingat adanya irisan kerja antar divisi dalam pelaksanaan AKP.
“AKP yang kita turunkan cukup banyak dan memiliki keterkaitan antar divisi. Oleh karena itu, koordinasi dan kerja sama menjadi kunci agar pelaksanaan supervisi ini dapat berjalan efektif dan menghasilkan output yang optimal,” ujarnya.
Lebih lanjut, Endah menegaskan bahwa tugas dan wewenang Bawaslu tidak berhenti meskipun tidak sedang berada dalam tahapan pemilu atau pemilihan. Salah satu tugas utama yang harus terus dijalankan adalah memberikan informasi yang akurat, edukatif, dan berkelanjutan kepada masyarakat, termasuk melalui pemutakhiran data secara berkala setiap tiga bulan.
Ia menilai bahwa masih terdapat paradigma di masyarakat yang memandang Bawaslu hanya berperan aktif saat momentum pemilu. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolektif untuk mengubah persepsi tersebut melalui diseminasi informasi yang masif dan berkesinambungan, baik melalui media sosial maupun berbagai kanal komunikasi lainnya yang bersifat edukatif.
“Penyampaian informasi kepada publik bukanlah bentuk pencitraan, melainkan bagian dari pelaksanaan tugas dan tanggung jawab kelembagaan. Ini tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi harus menjadi kerja bersama seluruh jajaran,” tegasnya.
Di sisi lain, Endah juga mengingatkan pentingnya menjaga soliditas internal, kekompakan, serta semangat gotong royong dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Ia menekankan agar setiap dinamika atau permasalahan yang muncul di lingkungan kerja dapat diselesaikan secara internal melalui komunikasi yang terbuka dan musyawarah.
“Interaksi antara pimpinan dan staf harus dilandasi rasa kebersamaan. Setiap persoalan hendaknya diselesaikan secara internal dengan pendekatan musyawarah. Kita adalah satu keluarga dalam lembaga ini, sehingga tidak perlu ada ego sektoral atau keinginan untuk saling menang sendiri,” pesannya.
Penulis : Ella Luma
Foto : Rere