Lompat ke isi utama

Berita

Arisan Film: Hoaks Bukan Sekadar Salah Informasi, Tapi Ancaman bagi Nalar Demokrasi

Arisan

Staf Bawaslu Lumajang, Martha Kunang Sukmandri, menegaskan pentingnya literasi digital dan daya kritis generasi muda sebagai benteng demokrasi di era banjir informasi

Lumajang -  Arisan Film Pendek Bawaslu Jawa Timur kembali memantik ruang refleksi dan perdebatan dalam seri terbarunya. Film yang diputar kali ini mengangkat kisah “Seorang Siswa SMP Bagikan Berita Demo Tanpa Sumber Kredibel”, sebuah cerita sederhana namun sarat pesan tentang bahaya hoaks di era digital.

Dalam forum tersebut, Martha Kunang Sukmandri, staf SDM dan Organisasi Bawaslu Lumajang, tampil sebagai komentator yang memberikan sudut pandang kritis terhadap isu literasi informasi di kalangan pelajar.

“Hoaks bukan hanya soal benar atau salah. Hoaks adalah ancaman bagi cara berpikir publik. Ketika generasi muda mudah percaya tanpa verifikasi, maka demokrasi sedang berada dalam bahaya,” ujar Martha, seusai sesi diskusi, Kamis (25/09/2025).

Film tersebut terinspirasi dari situasi nyata,  seorang siswa SMP di Jawa Timur membagikan kabar demo ke grup WhatsApp sekolahnya tanpa memeriksa sumber. Pesan itu kemudian menyebar dan menimbulkan kegaduhan kecil di lingkungan pelajar, sebelum akhirnya guru menemukan bahwa informasi tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi Martha, peristiwa semacam itu adalah alarm dini. Ia menilai generasi muda harus dibekali daya kritis, bukan sekadar kemampuan membaca informasi. “Anak-anak hari ini hidup dalam banjir informasi. Tanpa kemampuan menyaring, mereka bisa terseret arus, menjadi korban, bahkan berubah menjadi pelaku penyebar hoaks,” tegasnya.

Dalam diskusi, Martha menyoroti perbedaan sikap Bawaslu di dua daerah yang digambarkan dalam film. Bawaslu Lumajang yang tegas mengingatkan bahaya hoaks ia sebut sebagai pendekatan yang benar. Namun sikap Bawaslu Bojonegoro yang digambarkan “membiarkan” demi alasan dinamika informasi, menurutnya, adalah refleksi betapa literasi digital masih belum merata.

“Jika hoaks dibiarkan atas nama kebebasan informasi, itu bukan demokrasi, itu bencana. Demokrasi menuntut kebebasan yang disertai tanggung jawab,” katanya.

Sebagai komentator, Martha mengaku forum Arisan Film Bawaslu Jatim adalah ruang pembelajaran yang penting bagi pengawas pemilu. Sebab, isu hoaks bukan hanya soal teknologi, ia adalah soal etika, tanggung jawab sosial, dan ketahanan nalar publik.

Ia menegaskan bahwa Bawaslu, bahkan di luar momentum pemilu, tetap memikul tugas menjaga literasi demokrasi masyarakat. “Pemilu tanpa nalar publik yang sehat hanya akan melahirkan kebisingan, bukan peradaban. Karena itu, pengawas pemilu harus selalu mengingatkan masyarakat untuk kritis, termasuk terhadap informasi yang paling remeh sekalipun,” pungkasnya.

Program Arisan Film Pendek Bawaslu Jatim kini menjelma ruang dialektika, di mana isu kepemiluan, etika publik, dan literasi digital bertemu dalam percakapan yang cair namun berbobot. Di tengah derasnya produksi informasi, forum ini menjadi pengingat bahwa demokrasi hanya bisa tumbuh jika publik terbiasa memverifikasi, mempertanyakan, dan berpikir jernih sebelum membagikan apa pun.

Penulis : Ella Luma
Foto : Irawan