Lompat ke isi utama

Berita

Arisan Film Pendek: Cara Baru Bawaslu Jatim Mengasah Nalar dan Nyali Pengawas Pemilu

Arisan

Kepala Bagian Administrasi Bawaslu Jatim, Lambok Wesley Simangunsong, menilai Arisan Film Pendek sebagai terobosan kreatif dan “hidup” dalam pendidikan politik internal pengawas pemilu

Lumajang -  Kepala Bagian Administrasi Bawaslu Jawa Timur, Lambok Wesley Simangunsong menilai Arisan Film Pendek sebagai terobosan paling unik sekaligus paling “hidup” dalam proses pendidikan politik internal pengawas pemilu.

Bukan sekadar menonton film, program yang digagas Koordinator Divisi SDM dan Organisasi Bawaslu Jatim, Nur Elya Anggraini, ini dikemas dalam format refleksi yang tak biasa, satu film, dua penanggap, dua kubu, pro dan kontra, dipilih secara acak, lalu dipersilakan beradu argumen tanpa jeda.

“Saya menyebutnya unik sekaligus epik. Bukan hanya karena film menjadi bahan refleksi, tetapi karena diskusi yang lahir benar-benar liar, jujur, dan tanpa rekayasa. Itu yang tidak saya temukan di forum-forum lain di lingkungan Bawaslu Jatim dan 38 Kabupaten/Kota,” ujarnya.

Dalam setiap seri, film pendek diputar tanpa pemberitahuan tema sebelumnya. Setelah tayang, dua peserta dipilih lewat undian berbasis putaran jarum digital untuk menjadi penanggap. Satunya membela gagasan film (pro), satunya lagi wajib membantahnya (kontra). Keduanya tidak mendapat waktu berpikir panjang; mereka harus siap berargumen saat itu juga.

“Debatnya hidup. Tidak kaku. Tidak ada teks. Dan di situlah letak nilai pendidikannya: pengawas pemilu dilatih berpikir cepat, mengolah logika, merespons persoalan realitas, sekaligus mempertahankan argumentasi secara elegan,” tambahnya.

Ia menyebut format ini sebagai latihan nalar sekaligus latihan nyali. Sebab, seorang pengawas pemilu, pada titik tertentu, harus berani mengambil posisi, menjelaskan sikap, dan bertahan pada argumentasi meskipun berada pada ruang tekanan.

“Forum ini memaksa kita untuk tidak hanya paham aturan, tapi juga peka, responsif, dan tajam,” ucapnya.

Keunikan serial ini bahkan menarik perhatian lintas daerah. Pada seri keempat dari lima seri yang dijadwalkan, kegiatan tersebut diikuti oleh Koordinator Divisi SDM Bawaslu Provinsi Banten karena penasaran dengan formatnya.

Menurutnya, ruang debat kreatif semacam ini perlu diperbanyak agar pengawas pemilu tidak terjebak pada rutinitas administratif yang kering.

“Pengawas pemilu membutuhkan ruang edukasi yang menyentuh logika, emosi, dan keberanian berbicara. Melalui perdebatan, literasi demokrasi kita tumbuh. Melalui perbedaan, kita jadi lebih peka membaca persoalan publik,” tuturnya.

Baginya, Arisan Film Pendek adalah bukti bahwa penguatan SDM pengawas pemilu tak harus selalu dalam bentuk diklat formal atau materi regulasi yang kaku. Demokrasi, katanya, juga perlu napas seni, dialog, dan kejutan agar tetap hidup dan membumi.

Penulis : Ella Luma
Foto : Martha