Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Lumajang Perkuat Ideologi CPNS Pengawas Pemilu: “Integritas Dimulai dari Cara Berpikir”

Latsar

Anggota Bawaslu Lumajang, Radheteryan Firdyansyah, menegaskan penguatan ideologi kebangsaan bagi CPNS Bawaslu merupakan investasi jangka panjang

Lumajang – Anggota Bawaslu Kabupaten Lumajang, Radheteryan Firdyansyah, menegaskan bahwa penguatan ideologi kebangsaan bagi CPNS Bawaslu merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga marwah demokrasi. Pernyataan tersebut disampaikannya setelah dua CPNS Bawaslu Lumajang, Muhammad Fais dan Nindhy Afriskha Indraswari, mengikuti Pelatihan Dasar (Latsar) bertema wawasan kebangsaan dan bela negara, Rabu (10/9/2025).

“Integritas seorang ASN dimulai dari cara berpikirnya. Kalau pola pikirnya sudah dibangun di atas ideologi yang benar, maka setiap tindakannya akan selaras dengan kepentingan bangsa, bukan kepentingan sesaat,” ujar Radheteryan. Ia menegaskan, ASN di Bawaslu tidak boleh melihat tugas hanya sebagai rutinitas administrasi, tetapi sebagai mandat konstitusi.

Materi Latsar yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting itu menghadirkan Andi Kurniawan dari Lembaga Administrasi Negara (LAN). Ia menekankan kembali posisi ASN sebagai penjaga Pancasila sekaligus teladan publik.

“ASN harus berdiri pada garis yang tegas, setia pada Pancasila, menjaga kewibawaan negara, dan hadir sebagai teladan dalam situasi apa pun,” kata Andi di sela penyampaian materinya.

Radheteryan menilai pesan tersebut relevan bagi aparatur di lembaga pengawas pemilu. Menurutnya, ASN Bawaslu memikul tanggung jawab moral yang lebih berat dibanding instansi lain.

“ASN di Bawaslu bersentuhan langsung dengan kepercayaan publik terhadap demokrasi. Jika ideologinya goyah, maka fungsi pengawasan akan kehilangan legitimasi,” ujarnya.

Dua peserta Latsar itu pun mengamini pentingnya materi ideologi sebagai fondasi. Muhammad Fais menyebut pembekalan ini menjadi “penegas arah pengabdian.” Sementara Nindhy Afriskha menilai pelatihan tersebut bukan sekadar tahapan administratif, melainkan proses pembentukan karakter.
Radheteryan memastikan bahwa pembinaan SDM akan terus dilakukan secara berjenjang, bahkan setelah Latsar usai.

“Kami tidak ingin ASN yang hanya cakap teknis tapi kosong secara ideologi. Bawaslu membutuhkan aparatur yang sadar mandat, teguh pendirian, dan tidak mudah tunduk pada tekanan politik,” tegasnya.

Latsar ini menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran sebelum para CPNS memasuki masa aktualisasi. Bawaslu Lumajang menyatakan siap mendampingi proses penguatan SDM sebagai strategi menghadapi kompleksitas pengawasan pemilu di tahun-tahun mendatang.

Penulis : Ella Luma
Foto : Martha