Lompat ke isi utama

Berita

Evaluasi Pengawasan Konten Internet (Siber), Totok: "Kita Bukan Sekadar Pekerja Bawaslu, Tapi Pekerja Demokrasi"

totok hariyono

Bawaslu Kabupaten/Kota se-Jawa Timur mengikuti kegiatan Evaluasi Pengawasan Konten Internet (Siber) yang dilaksanakan di Royal Orchid Garden Hotel, Batu, pada Jumat (14/2/2025). Kegiatan ini menjadi forum reflektif dan strategis dalam memperkuat peran pengawasan digital sebagai bagian integral dari penguatan demokrasi di Indonesia.

Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota Bawaslu Republik Indonesia, Totok Hariyono, yang dalam sambutannya memberikan pandangan mendalam tentang posisi strategis Bawaslu dalam sistem demokrasi.

“Kita ini bukan sekadar pekerja Bawaslu, tapi pekerja demokrasi. Bawaslu mungkin tampak kecil, namun sejatinya kita menjalankan mandat konstitusi. Pemilu hanyalah bagian kecil dari demokrasi. Maka, anggapan bahwa ketika pemilu selesai, tugas kita juga selesai, adalah persepsi yang keliru,” tegas Totok.

Ia menekankan bahwa lembaga seperti Bawaslu, KPU, dan DKPP dibentuk oleh konstitusi, dan karena itu keberadaannya tidak bisa dibubarkan begitu saja tanpa perubahan konstitusi. “Posisi kita kuat secara konstitusional. Maka saat masa krisis dan efisiensi, tugas kita tetap berjalan: memperkuat demokrasi,” lanjutnya.

Totok juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan media sosial sebagai alat edukasi demokrasi, seperti menyampaikan informasi mengenai netralitas kepala desa, etika kampanye, dan prinsip negara hukum. “Media sosial adalah ruang partisipatif. Meski anggaran terbatas, kita tetap bisa menyampaikan informasi yang bermakna secara berulang dan strategis,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar Bawaslu di daerah kembali ke basis masyarakat dan menjalin dialog langsung dengan tokoh-tokoh lokal guna menyadarkan masyarakat bahwa demokrasi adalah milik bersama dan negara ini adalah negara hukum.

“Kita adalah aktivis demokrasi. Kita tidak boleh berhenti hanya karena tidak ada tahapan pemilu. Justru di masa jeda ini, kita bergerak dengan metode penguatan sosio-demokrasi: partisipatif, gotong royong, kritis, dan solutif terhadap dinamika sosial-politik di wilayah masing-masing,” pungkas Totok.

Penulis dan Foto : Dincs