Lompat ke isi utama

Berita

Lubis: Demokrasi Tak Hanya di Bilik Suara, Tapi Juga di Kesadaran Warga

lubis

Dalam momentum Hari Demokrasi Internasional, Bawaslu Lumajang ajak masyarakat terus berpartisipasi aktif, kritis, dan beretika dalam menjaga ruang demokrasi yang jujur dan adil

Lumajang - Bagi M. Syafifudin Lubis, demokrasi bukan sekadar hitungan suara di bilik pemungutan, melainkan napas panjang yang harus dijaga oleh kesadaran warga setiap hari.

Dalam momentum Hari Demokrasi Internasional yang diperingati setiap 15 September, Anggota Bawaslu Kabupaten Lumajang itu menegaskan pentingnya membangun partisipasi publik yang cerdas, kritis, dan beretika dalam menjaga ruang demokrasi di Indonesia.

“Demokrasi tidak hanya hidup saat pemilu berlangsung. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat untuk terlibat, mengawasi, dan menjaga agar proses politik berjalan jujur dan adil,” ujar Lubis saat ditemui di kantor Bawaslu Lumajang, Senin (15/09/2025).

Lubis menilai, Hari Demokrasi Internasional bukan sekadar peringatan simbolik, melainkan kesempatan untuk mengukur sejauh mana masyarakat berperan dalam memastikan nilai-nilai demokrasi benar-benar hidup di tingkat lokal.

Menurutnya, pengawasan partisipatif menjadi instrumen penting agar demokrasi tidak hanya dikuasai oleh elit, tetapi dimiliki bersama oleh seluruh warga.

“Sebagai pengawas pemilu, kami percaya bahwa demokrasi yang sehat harus ditopang oleh masyarakat yang aktif dan berani menyuarakan kebenaran. Pengawasan partisipatif itu bentuk cinta rakyat terhadap negaranya,” katanya.

Lubis juga mengingatkan bahwa praktik demokrasi modern kerap menghadapi tantangan baru, mulai dari disinformasi digital hingga politik uang yang terus beradaptasi dengan zaman. Karena itu, katanya, edukasi politik dan literasi digital harus menjadi prioritas dalam menjaga integritas pemilu di masa depan.

“Kita tidak bisa lagi hanya bicara soal kecurangan di TPS. Hari ini, medan demokrasi sudah bergeser ke ruang digital. Di situlah kesadaran kritis warga diuji,” ujarnya.

Bawaslu Lumajang, lanjut Lubis, terus berupaya menanamkan nilai-nilai demokrasi melalui kegiatan pendidikan pemilih dan kampanye pengawasan partisipatif, khususnya di kalangan pelajar, mahasiswa, dan komunitas masyarakat sipil.

Ia berharap, dari ruang-ruang kecil inilah akan tumbuh generasi baru yang mencintai demokrasi bukan karena ritual lima tahunan, tetapi karena keyakinan akan pentingnya keadilan dan keterbukaan.

“Menjaga demokrasi itu bukan tugas segelintir orang. Ini kerja panjang, kerja gotong royong bangsa,” pungkasnya.

Penulis : Ella Luma
Foto : Kunang