Lompat ke isi utama

Berita

Makna Filosofis Judul Buku “Desah Demokrasi di Lembah Mahameru” oleh Radheteryan Firdiansyah

radheteryan

Dalam acara peluncuran buku Desah Demokrasi di Lembah Mahameru, Sabtu (28/12/24), Radheteryan Firdiansyah, S.Pd., MM., selaku Koordinator Divisi SDMO dan Diklat Bawaslu Kabupaten Lumajang, menjelaskan alasan di balik pemilihan judul buku tersebut. Menurutnya, kata "desah" dipilih untuk menggambarkan suara kecil yang mungkin tidak beraturan tetapi tetap bermakna. 

“Desah demokrasi adalah suara kecil dari bagian kecil demokrasi. Jangan diartikan ke arah yang kotor,” tegas Radheterian.

Ia menambahkan bahwa buku ini mencerminkan kerja nyata Bawaslu dalam menjalankan tugasnya, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan, seperti menertibkan alat peraga kampanye (APK) hingga menghadapi tekanan dari oknum tertentu. 

“Banyak masyarakat bertanya apa kerja Bawaslu dan KPU. Melalui buku ini, kita ingin menunjukkan bahwa meskipun suara kami kecil, kontribusi kami besar dalam menjaga demokrasi,” ujarnya.

Radheteryan juga menekankan pentingnya buku ini sebagai bentuk dokumentasi sejarah. Buku ini tidak hanya menjadi bukti nyata atas dedikasi jajaran Bawaslu tetapi juga akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. 

“Jika kita meninggalkan sejarah dalam bentuk tulisan, maka itu akan menjadi filosofi penting, sebuah apresiasi terhadap upaya kita mengawal demokrasi,” pungkasnya.

Dengan peluncuran buku ini, Bawaslu Kabupaten Lumajang ingin menegaskan bahwa kontribusi kecil sekalipun dalam demokrasi memiliki makna besar bagi perjalanan bangsa.

Penulis dan Foto : Dincs