Lompat ke isi utama

Berita

Merawat Memori Pemilu: Bawaslu Jatim Dorong Literasi Politik Berbasis Pengalaman Nyata

2011

“Literasi politik yang paling kuat adalah literasi berbasis pengalaman nyata,” A. Warits Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Timur

Surabaya - Di balik penutupan rangkaian 40 kegiatan penguatan kelembagaan Bawaslu Jatim, sebuah gagasan besar mengemuka, yakni pentingnya merawat “memori pemilu” sebagai fondasi literasi demokrasi. Di Surabaya, Kamis (20/11/2025), Ketua Bawaslu Jatim A. Warits mengungkapkan bahwa lembaganya menyimpan jutaan lembar Form Asebuah kekayaan data yang harus dihidupkan kembali.

“Jika tidak didigitalkan, Form A itu butuh 42.000 rim kertas untuk dicetak,” ujarnya.

Bagi Warits, catatan pengawasan bukan sekadar arsip, tetapi memori kolektif yang harus dibuka untuk menjadi pengetahuan publik.

“Literasi politik yang paling kuat adalah literasi berbasis pengalaman nyata,” tegasnya.

Hadir dalam kegiatan ini Ketua Bawaslu Lumajang Lutfiati dan Plt Kepala Sekretariat Prajna Eka Puspitasari, yang menilai bahwa gagasan digitalisasi memori pemilu selaras dengan kebutuhan kabupaten/kota dalam memperkuat pengawasan berbasis data.

Warits juga mengingatkan bahwa pengawasan pemilu kini berada di tengah arus deras disinformasi, kampanye digital, dan penetrasi kecerdasan buatan. Karena itu, penguatan data, teknologi, dan SDM menjadi kunci menghadapi tantangan.
Ia menutup kegiatan dengan ajakan untuk menjaga integritas, memperkuat organisasi, dan merawat demokrasi melalui pengetahuan yang lahir dari pengalaman pemilu itu sendiri.

Menanggapi soal form A pada tahapan Pemilu dan Pilkada tahun 2024, Ketua Bawaslu Kabupaten Lumajang, tercatat telah menyumbangkan 2.586  form A pada saat Pemilu, dan 16.514 form A saat Pilkada.

“Semua form A hasil pengawasan dari seluruh jajarannya mulai dari tingkat pengawas TPS, pengawas kelurahan/desa, pengawas kecamatan, hingga kabupaten, telah kami masukkan ke dalam rumah data Bawaslu Jatim”, jelas Lutfiati.

Penulis : Ella Luma
Foto : Krisna