Lompat ke isi utama

Berita

Nasib Kehumasan Bawaslu Diera Efisiensi, Hosnan: Tetap Bersuara ditengah Batas

Hosnan

Hosnan Hermawan dari Bawaslu Sumenep menegaskan pentingnya merumuskan strategi komunikasi publik yang tetap kuat meski dengan sumber daya terbatas

Lumajang - Di tengah tekanan efisiensi anggaran yang melanda banyak lembaga negara, kerja-kerja kehumasan Bawaslu justru dituntut semakin gesit, kreatif, dan berdampak. Dalam forum Cangkrukan Demokrasi yang digelar Bawaslu Jawa Timur secara daring pada Selasa, (5/8), Hosnan Hermawan dari Bawaslu Sumenep menegaskan pentingnya merumuskan strategi komunikasi publik yang tetap kuat meski dengan sumber daya terbatas.

Acara yang mempertemukan Divisi Humas dan Divisi Data dan Informasi Bawaslu kabupaten/kota se-Jawa Timur ini menjadi ruang berbagi praktik baik, gagasan segar, dan solusi atas tantangan kehumasan. Diikuti oleh 38 Bawaslu kabupaten/kota, termasuk Bawaslu Lumajang, forum ini bertujuan memperkuat wajah lembaga di mata publik tanpa bergantung pada besar kecilnya anggaran.

“Di era efisiensi, humas tak bisa lagi hanya mengandalkan baliho dan banner. Kita harus mampu mengoptimalkan media sosial, membangun jejaring media lokal, dan menyusun narasi yang menyentuh publik,” ujar Hosnan Hermawan, Kordiv Pencegahan, Parmas, dan Humas Bawaslu Sumenep dalam sesi pemaparannya.

Dalam paparannya, Hosnan menguraikan tiga strategi utama yang bisa diterapkan Bawaslu kabupaten/kota. Pertama, penguatan kehumasan digital berbasis konten organik, dengan memanfaatkan kanal-kanal gratis seperti Instagram, Facebook, dan YouTube untuk menyebarkan informasi edukatif dan aktual. Kedua, kemitraan dengan media lokal, bukan hanya sebagai sarana publikasi, tetapi mitra strategis dalam menjaga kepercayaan publik.

Ketiga, penciptaan citra kelembagaan berbasis narasi, di mana setiap kegiatan pengawasan diolah menjadi cerita yang relevan dan menyentuh kehidupan masyarakat.

Hosnan menegaskan bahwa keberhasilan kehumasan tidak diukur dari mahalnya produksi media, melainkan dari tingkat keterlibatan dan kepercayaan publik.

“Humas yang berhasil bukan yang paling ramai di media, tapi yang paling dipercaya oleh rakyat,” kata dia. Ia berharap strategi-strategi ini bisa direplikasi oleh Bawaslu lain di Jawa Timur.

Cangkrukan Demokrasi edisi ke-7 ini juga menghadirkan narasumber dari Bawaslu Situbondo, Tuban, dan Trenggalek. Diskusi berlangsung hangat, saling memberi masukan, dan penuh praktik nyata. Di tengah keterbatasan, forum ini membuktikan bahwa suara pengawasan pemilu tetap bisa terdengar lantang asal dikemas dengan cerdas dan menyentuh.

Penulis & Foto : Ella Luma