Radheteriyan: Arisan Film Pendek, Cara Baru Menghidupkan Naluri Pengawas Pemilu
|
Lumajang — Anggota Bawaslu Kabupaten Lumajang Koordinator Divisi SDM dan Organisasi, Radheteriyan Firdiansyah, menilai program Arisan Film Pendek yang digagas Bawaslu Jawa Timur sebagai langkah kreatif dalam menjaga ketajaman insting pengawas, terutama di masa jeda pemilu. Kegiatan yang digelar secara hybrid pada Kamis (14/08/2025) itu, menurutnya, merupakan metode pembelajaran yang tidak hanya segar, tetapi tepat sasaran.
“Pengawas pemilu membutuhkan ruang latihan yang tidak melulu formal. Film bisa menjadi medium yang menyuntikkan kepekaan, empati, dan logika dalam satu waktu. Ini cara yang efektif untuk merawat naluri pengawasan kita,” ujar Radheteriyan usai mengikuti kegiatan tersebut.
Seri perdana program ini menayangkan film berjudul Pilkades Serentak Desa Morleke, yang mengangkat dinamika pengawasan dalam pemilihan kepala desa. Baginya, film mampu memotret sisi-sisi pengawasan yang tidak selalu tertangkap oleh teks regulasi maupun laporan tertulis.
“Di lapangan, pengawasan tidak hanya soal aturan. Ada emosi, ada budaya lokal, ada dinamika sosial yang berkelindan. Film mampu membawa kita masuk ke ruang-ruang itu secara lebih utuh,” tegasnya.
Radheteriyan menyebut, di masa jeda pemilu, justru diperlukan ruang-ruang refleksi agar pengawas tidak tumpul oleh waktu. Latihan narasi, empati, dan penguatan kecermatan, menurutnya, sama pentingnya dengan pendalaman regulasi.
“Ibarat prajurit, kita tidak boleh meletakkan senjata hanya karena medan sedang tenang. Sensitivitas harus terus diasah, dan program kreatif seperti ini adalah bentuk latihan yang relevan dengan zaman,” imbuhnya.
Program Arisan Film Pendek akan hadir dalam lima seri, masing-masing disertai diskusi tematik. Bagi Radheteriyan, pendekatan ini menjembatani dua dunia: edukasi dan budaya visual. Ia berharap metode seperti ini diperluas, bukan hanya di ranah provinsi, tetapi juga diterapkan hingga ke daerah.
“Demokrasi tidak boleh kering. Ia harus hidup, dan salah satu cara menghidupkannya adalah lewat ruang-ruang belajar yang hangat, lentur, dan dekat dengan realitas masyarakat,” pungkasnya.
Melalui program ini, pengawasan pemilu seolah dirumuskan ulang dalam wajah yang lebih manusiawi, melihat pemilu bukan hanya sebagai prosedur, tetapi sebagai cerita tentang manusia, kuasa, pilihan, dan moralitas.
Penulis : Ella Luma
Foto : Martha