Lompat ke isi utama

Berita

Selasa Berkebaya: Bawaslu Lumajang Konsisten Rayakan Elegansi Perempuan Pengawas Demokrasi

kebaya

Komisioner perempuan mengenakan kebaya dengan beragam warna dan corak khas Nusantara

Lumajang - Suasana di Kantor Bawaslu Kabupaten Lumajang selalu tampak berbeda setiap Selasa. Komisioner perempuan mengenakan kebaya dengan beragam warna dan corak khas Nusantara.

Tradisi ini merupakan bagian dari program “Selasa Berkebaya” yang digagas Bawaslu Provinsi Jawa Timur, sebagai bentuk penghargaan terhadap jati diri perempuan Indonesia sekaligus memperkuat semangat mereka dalam mengawal demokrasi.

Ketua Bawaslu Lumajang, Lutfiati, menilai program “Selasa Berkebaya” bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi simbol komitmen perempuan pengawas pemilu dalam menyeimbangkan nilai-nilai budaya, etika, dan profesionalisme.

“Kebaya ini bukan hanya pakaian, tapi cermin keteguhan perempuan dalam menjaga marwah lembaga. Dengan berkebaya, kami ingin menunjukkan bahwa integritas dan keanggunan bisa berjalan beriringan dalam mengawal demokrasi,” ujar Lutfiati, (23/09/2025).

Ia menambahkan, dalam dunia pengawasan pemilu yang kerap dihadapkan pada dinamika politik, kehadiran perempuan memberi warna tersendiri — menghadirkan perspektif empati, ketelitian, dan keberanian moral dalam menjaga keadilan Pemilu.

Senada dengan itu, Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Lumajang, Siti Mudawiyah, menyebut program “Selasa Berkebaya” sebagai ruang ekspresi identitas sekaligus pengingat akan peran besar perempuan dalam menjaga nilai-nilai demokrasi yang beradab.

“Perempuan pengawas pemilu bukan hanya pelengkap, tapi penentu. Dalam setiap langkah kerja pengawasan, ada ketelitian dan kelembutan khas perempuan yang justru menjadi kekuatan,” tutur Mudawiyah.

Ia menambahkan, kebaya juga merepresentasikan filosofi kesabaran dan kehati-hatian, dua nilai yang sangat relevan dalam proses penegakan hukum pemilu dan penyelesaian sengketa.

Program “Selasa Berkebaya” kini menjadi agenda rutin di lingkungan Bawaslu Jawa Timur, termasuk di Lumajang. Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi simbol bahwa perempuan pengawas pemilu hadir bukan hanya dengan kecakapan intelektual, tetapi juga dengan karakter dan nilai-nilai kebangsaan yang melekat kuat.

“Dari kebaya ini, kami belajar bahwa menjadi perempuan pengawas bukan hanya tentang bekerja keras, tapi juga tentang menjaga martabat dan keindahan dalam setiap langkah pengabdian,” tutup Lutfiati.

Penulis : Ella Luma

Foto : Ella Luma