Uji Petik di Sumbersuko, Lubis: Kami Memastikan Tidak Ada Satu Suara pun Berasal Dari Mereka Yang Sudah Tiada
|
Lumajang - Data tak selalu berbicara benar. Itu yang tengah coba dibuktikan Bawaslu Kabupaten Lumajang dalam proses verifikasi faktual pemutakhiran data pemilih berkelanjutan (PDPB). Dalam sebuah uji petik lapangan, Bawaslu Lumajang lagi-lagi menemukan fakta mencengangkan. Di Sumbersuko dilaporkan bahwa dari 41 pemilih baru yang terdaftar, empat di antaranya ternyata telah meninggal dunia.
“Dan itu bukan baru. Meninggalnya sudah lama,” kata M.S. Lubis, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Lumajang, kepada Humas usai kegiatan, Rabu siang, (7/08).
Uji petik ini dilakukan secara langsung oleh Lubis bersama tim di Balai Desa Sumbersuko, Kecamatan Sumbersuko. Lokasi ini dipilih sebagai titik verifikasi lapangan atas data pemilih yang diperoleh dari KPU Lumajang.
“Proses verifikasi faktual ini kami lakukan dengan metode croscheck langsung. Kami bandingkan data dari KPU dengan data base yang dimiliki oleh pihak desa,” ujar Lubis.
Dari pengambilan sampel terhadap 20 orang pemilih, lima nama dinyatakan telah sesuai dengan statusnya sebagai meninggal dunia. Selain itu, dari 26 nama yang tercatat sebagai pemilih yang telah pindah domisili, seluruhnya berhasil dikonfirmasi dan dinyatakan akurat oleh aparat desa setempat.
Namun sorotan utama tetap jatuh pada 4 nama dari daftar pemilih baru yang nyatanya sudah lebih dulu meninggal dunia.
“Ini menjadi catatan penting bagi kita bersama. Artinya, data pemilih tidak bisa hanya mengandalkan pencocokan administratif, harus dicek langsung di lapangan,” tegas Lubis.
Langkah Bawaslu ini merupakan bagian dari upaya pencegahan dini terhadap potensi daftar pemilih bermasalah menjelang Pemilu dan Pilkada mendatang. Menurut Lubis, uji petik semacam ini akan terus dilakukan secara berkala untuk memastikan validitas dan akurasi data pemilih, sekaligus menguji komitmen para pemangku kepentingan terhadap prinsip demokrasi yang bersih.
“Tujuan kami sederhana, memastikan tidak ada satu suara pun berasal dari mereka yang sudah tiada,” katanya.
Di tengah tahapan politik yang terus berjalan, temuan semacam ini menjadi pengingat keras: bahwa keakuratan data pemilih adalah fondasi demokrasi. Tanpa itu, proses elektoral bisa cacat sejak awal.
Penulis & Foto : Ella Luma